Selagi Masih Sempat Kuliah
Hidup ini akan ku abdikan untuk pergi ke kampus, kuliah dan mencari nilai setinggi-tingginya sembari menunggu negeri ini hancur
Hari ini seorang mahasiswa muda bersiap memasuki kelas yang telah cukup lama ia tinggalkan. Entah kenapa pagi itu terlihat berbeda dari biasanya. Kemeja lusuh yang sejak tiga hari lalu ia pakai, hari itu masih setia mendukung penampilannya agar terlihat lebih rapi. Setengah jam lagi kelas pertama akan dimulai, dan setengah jam lagi pula ia akan segera bertemu teman-teman sekelasnya. Teman- teman yang sangat peduli dengan kuliah dan belajar dan sangat bersemangat mengejar nilai setinggi-tingginya. Ya..mungkin tidak salah bagi seorang mahasiswa yang memiliki cita-cita tinggi dan ingin menjadi kebanggaan orang tuanya.
Setengah jam lagi, mungkin setengah jam berikutnya, atau bahkan satu jam setelah setengah jam tadi, sang dosen yang dinanti akan segera tiba. Sudah menjadi tradisi di lingkungan kampus jika dosen datang terlambat harap mahasiswa maklum, sebab mungkin sang dosen terlalu sibuk dengan ‘urusan’ lain yang lebih mengutungkan. Namun lucunya bila mahasiswa yang datang terlambat, jangan harap si dosen akan memberikan nilai sempurna di akhir semester.
Suasana kelas pagi itu belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sibuk merapikan catatan dan mengerjakan tugas. Sementara yang lain asik mendiskusikan gosip-gosip yang masih hangat atau sekedar mereview rencana, Mall mana lagi yang akan mereka datangi minggu ini. Bagi mereka kegiatan seperti itu lebih menyenangkan dibandingkan membaca buku. Apalagi buku-buku yang membuat isi kepala rasanya ingin keluar semua karena bahasanya yang terlalu ilmiah. Itulah keunikan mereka, malas membaca buku karena bahasanya yang terlalu ilmiah. Padahal hal-hal ilmiah seharusnya menjadi sesuatu yang lumrah bagi kalangan akademisi, khususnya mahasiswa yang selama ini mengklaim diri sebagai kalangan intelektual.
Negeri ini masih beruntung, kelas dalam ruang kuliah itu masih terlihat penuh. Banyak pemuda dan pemudi yang masih sanggup melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak pemuda dan pemudi yang terpaksa harus gigit jari karena tabungan orang tua nya tidak cukup untuk membayar uang pangkal. Tidak ada pilihan bagi mereka selain mencari pekerjaan supaya bisa menghasilkan uang. Walau hanya akan menjadi buruh murah, karyawan kecil atau bahkan sales yang nasibnya hanya dijadikan korban eksploitasi kapitalis.
Dasyat memang. Fenomena seperti ini hampir terjadi setiap tahunnya. Bukan hanya di Jakarta, namun menyeluruh di seluruh kawasan nusantara. Rasanya sungguh ironi, dalam mata pelajaran sejarah pemuda selalu dibanggakan sebagai kalangan yang memilki andil besar dalam meraih kemerdekaan. Peristiwa Sumpah Pemuda dan penculikan Soekarno-Hatta oleh para pemuda ke Rengasdengklok menjadi titik awal lahirnya negeri ini.
Namun kini, pemuda Indonesia malah terbelenggu dalam sistem yang mereka jalani sendiri. Mahasiswa lebih sibuk kuliah dan hura-hura dari pada memikirkan pendidikan yang semakin mahal hingga tidak sadar banyak pemuda lain yang tidak sanggup lagi menggapainya. Oh..iya, maklum saja mungkin mereka sebelumnya sudah mengintip isi dompet orang tuannya yang masih tampak tebal tanpa menganalisa bagaimana beratnya mencari uang.
Kelas sudah terlihat lebih ramai, teman-teman sekelas sudah mulai berdatangan. Seperti biasa sang dosen mungkin akan terlambat lagi. Namun tidak masalah karena mahasiswa muda itu hari ini memang berniat kuliah. Ia ingin mencicipi kelas ini sekali lagi. Sebelum besok, lusa, atau saat pemerintah mulai mengesahkan kebijakan pendidikan mahal dan saat orang tua nya tak mampu lagi membiayai kuliahnya.
semoga mahasiswa itu ikut ambil bagian mempertahnkan bangsanya. kurasa itu bagian dari proses belajar..^_^ @ sailor moon
BalasHapus